Rabu, 14 Desember 2011

VARIASI PENGGUNAAN LAHAN PERTANIAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
      Di seluruh lahan di muka bumi ini mempunyai luas 14.800 juta ha (148 juta km2). Luas ini mencakup 29% luas muka bumi berarti 71% luas muka bumi terdiri atas air. Kira-kira 1.400 juta ha lahan tertutup oleh es secara tetap dan 13.400 juta ha merupakan lahan sejati. Menurut FAO dalam Production Year Book tahun 1975, secara umum penggunaan lahan di dunia digolongkan sebagai berikut: golongan lahan untuk bercocok tanam dengan luas lahan 1.507 juta ha (11,3% dari luas lahan di muka bumi); lahan untuk rerumputan luasnya 3.044 juta ha (22,7%); lahan untuk hutan 4.503 juta ha (30.3%); dan lahan untuk lain-lain dengan luas 4.788 juta ha (37,7%). Di dalam golongan “lahan lain-lain” ini tercakup terutama lahan tundra di wilayah kutub, lahan kering di wilayah gurun dan lahan batu di gunung-gunung. Golongan ini juga mencakup 400 juta ha lahan yang digunakan untuk perumahan, industri, jalan dan pelabuhan udara (Buringh, P, 1991: 1).
      Pada zaman sekarang ini penggunaan lahan yang bukan untuk pertanian semakin meluas, bahkan banyak lahan pertanian yang rusak karena penggunaan dan pengelolaan lahan yang keliru sehingga mengakibatkan lahan untuk kegiatan pertanian semakin berkurang drastis. Penggunaan lahan bukan untuk pertanian mencakup permukiman, lalu lintas, industri pertambangan terbuka dan tempa-tempat rekreasi. Daerah yang digunakan tersebut selalu meluas sejak penduduk dunia ini meningkat dengan cepat. Di beberapa negara 0,1 sampai 0,5% lahan garapan yang baik telah hilang setiap tahun untuk keperluan itu, kebanyakan kota besar, kota, dan kampung/desa berada di tanah-tanah terbaik dank arena itu lahan-lahan yang termasuk kelas-kelas terbaik telah lebih banyak lagi yang hilang. Oleh karena penduduk dunia diprediksi akan meningkat dua kali lipat dalam waktu 35 tahun, setiap orang akan mudah membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan yang dekat ini.

2.1. Rumusan Masalah
Adapun rumusan-rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu sebagai berikut:
1) Bagaimana penggunaan lahan untuk pertanian?
2) Macam-macam lahan pertanian?

3.1. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui penggunaan lahan untuk kegiatan pertanian.
2) Untuk mengetahui kendala-kendala dalam penggunaan lahan untuk pertanian.
3) Agar mengetahui ketentuan dalam menentukan kesesuaian dan kemampuan lahan untuk kegiatan pertanian?
4) Mengetahui tahapan-tahapan dalam menentukan kesesuaian lahan untuk kegiatan pertanian.
5) Mengetahui kelas-kelas lahan yang mampu dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Penggunan Lahan untuk Kegiatan Pertanian
      Lahan adalah permukaan daratan dengan kekayaan benda-benda padat, cair, dan bahkan benda gas (Suryatna, 1985: 9). Kemudian (Karmono, 1985 dalam Haryoko, 1996: 13) memberikan pengertian lahan adalah suatu daerah di permukaan bumi dengan sifat-sifat tertentu yaitu adanya persamaan dalam hal geologi, geomorfologi, atmosfir, tanah, hidrologi dan penggunaan lahan, sifat-sifat tersebut adalah berupa iklim, batuan dan struktur, bentuklahan dan proses, jenis tanah, tata air, dan vegetasi/ tumbuhannya. Jadi dalam pengertian lahan terbayang dalam pikiran kita tentang apa yang terkandung di dalamnya dan bagaimana keadaan tanahnya. Dengan demikian lahan adalah ruang di permukaan bumi dapat sebagai sumberdaya yang dapat dieksploitasi, dimana dalam pemanfaatannya hendaknya dilakukan secara benar dengan mempertimbangkan kelestariannya.
Penggunaan lahan dalam konteks ini diartikan dalam wujud fisik penggunaan lahan, baik bersifat alamiah maupun sebagai aktifitas manusia. Variasi wujud penggunaan lahan di suatu wilayah sangat dipengaruhi oleh aktifitas manusia di atas lahan yang bersangkutan. Makin banyak jumlah penduduk yang mengusahakan lahan untuk aneka ragam kegiatan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, makin bervariasi pula wujuh penggunaan lahan yang terjadi. Pola penyebaran penduduk juga berperan dalam membentuk pola penggunaan lahan, baik di perkotaan maupun di pedesaan.
Menurut kajian dari data FAO dalam penggolongan penggunaan lahan di dunia seperti yang telah diuraikan sebelumnya, 25% luas lahan atau sekitar 3.400 juta ha di muka bumi ini sesuai untuk bercocok tanam atau bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian, dan kebanyakan lahan tersebut berada di wilayah tropik dan subtropik. Kemudian, sebagian lahan cadangan atau lahan yang belum dibuka terdapat di Afrika dan Amerika.
       Kira-kira 11% lahan dunia merupakan lahan garapan. Di daerah-daerah dengan musim kering tegas dan penjang, penanaman diusahakan sekali dalam tiga tahun, sedangkan pada keadaan yang sangat menguntungkan dapat diusahakan dua atau tiga kali penanaman setiap tahun. 22% lahan dunia merupakan lahan rerumputan. Sebagian lahan rerumputan ini menghasilkan 20 ton bahan kering tiap hektar (2 kg/m2); lahan lain yang kurang produktif hanya menghasilkan tidak lebih dari 1 ton/ha. Sedangkan pada daerah gurun sejati nyaris tidak menghasilkan apa pun (Buringh, P, 1991; hal. 5).
Sekitar setengah lahan tropika dan seperempat lahan subtropika adalah berupa hutan dari berbagai jenis dan mutu. Hutan itu menyediakan kayu bakar, kayu bangunan dan bubur (pulp) untuk industri kertas. Di daerah tropik sekitar 80% kayu potong dipergunakan sebagai kayu bakar. Di dalam hutan tropis sejati, pohon-pohon yang berharga ditebang dengan laju penebangan yang terus meningkat, baik untuk ekspor maupun untuk memenuhi kebutuhan setempat. Dibandingkan dengan usaha penghutanan kembali, penebangan hutan berada pada taraf yang sangat meluas. Diperkirakan, butuh waktu selama seperempat abad untuk mengembalikan kondisi hutan yang sudah rusak seperti pada saat sekarang ini.
Di daerah tropika humid mempunyai produktivitas hayati alamiah sangat tinggi, yaitu, penghasilan bahan kering tahunan hutan rimba tropika (tropical rain forest) diperkirakan sebanayak 28 ton/ha, rawa sebesar 20 ton/ha dan padanga rumput tropika kira-kira 8 ton/ha. di daerah kering jumlahnya tentu jauh lebih rendah. lahan penggembalaan alamiah di kawasan Sahel contohnya menghasilkan bahan kering sekitar 2 ton/ha (Buringh P, 1991; hal. 115)
      Dikebanyakan negara-negara tropika Burungh (1991) mengemukakan bahwa hasil panen pertaniannya masih rendah, yang terutama disebabkan kerena pengelolaan usaha tani yang agak buruk karena masing menggunakan usaha tani tradisonal. Ada teladan usaha tani unggul yang dapat menghasilkan pertanaman 3 sampai 8 kali lipat daripada yang tradisional. Selama dasawarsa terakhir telah diperoleh kemajuan dalam menentukan asas pengelolaan usaha tani yang sepadan (appropriate). Kesimpulan semua ahli, ialah bahwa hasil panen dapat ditingkatkan secara luar biasa apabila pengelolaan usaha tani diperbaiki.
Tanah/lahan di banyak negara tropik mempunyai potensi pertanian yang tinggi. Meskipun demikian perbaikan umum terhadap penghasilan pertanian memakan waktu dan harus dilaksanakan selangkah demi selangkah. Untuk itu kadang pergantian keadaan sosial – ekonomi, khususnya pada penduduk pedesaan, seringkali menjadi syarat utama yang diperlukan.

2.2. Macam – macam Bentuk Lahan
a. Lahan Basah adalah wilayah-wilayah di mana tanahnya jenuh dengan air, baik bersifat permanen (menetap) atau musiman. Wilayah-wilayah itu sebagian atau seluruhnya kadang-kadang tergenangi oleh lapisan air yang dangkal. Digolongkan ke dalam lahan basah ini, di antaranya, adalah rawa-rawa (termasuk rawa bakau), paya, dan gambut. Air yang menggenangi lahan basah dapat tergolong ke dalam air tawar, payau atau asin.
b. Lahan Kritis adalah lahan yang tidak produktif. Meskipun dikelola, produktivitas lahan kritis sangat rendah. Bahkan, dapat terjadi jumlah produksi yang diterima jauh lebih sedikit daripada biaya pengelolaannya. Lahanini bersifat tandus, gundul, tidak dapat digunakan untuk usaha pertanian, karena tingkat kesuburannya sangat rendah.
c. Lahan Potensial adalah lahan yang belum dimanfaatkan atau belum diolah dan jika diolah akan mempunyai nilai ekonimis yang besar karena mampunyai tingkat kesuburan yang tinggi dan mempunyai daya dukung terhadap kebutuhan manusia. Lahan potensian merupakan modal dasar dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu harus ditangani dan dikelola secara bijak. Daerah diluar jawa banyak memiliki daerah produktif yang sangat potensial, tetapi belum atau tidak dimanfaatkan sehingga daerah ini dikenal dengan daerah yan sedang tidur.
d. Lahan Tidur adalah Lahan-lahan yang belum dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian produktif (Karama dan Abdurrahman, 1994). Sebagai contoh, lahan-lahan yang pernah dibuka untuk pertanian atau diambil kayunya untuk keperluan industri lalu tidak digunakan lagi atau terlantar. Kondisi lahan tersebut umumnya terbuka atau telah ditutupi oleh tumbuh-tumbuhan yang tidak produktif seperti alang-alang, semak belukar dan lain-lain.
e. Lahan Gambut adalah lahan yang menempati posisi peralihan antara daratan dan perairan. Lahan ini sepanjang tahun atau selama waktu yang panjang dalam setahun selalu jenuh air (waterlogged) atau tergenang. Keputusan Menteri PU No. 64/PRT/1993 menyatakan lahan rawa di dibedakan menjadi dua, yaitu rawa pasang surut/rawa pantai dan rawa non pasang surut/rawa pedalaman.

2.3. Jenis Penggunaan Lahan
Keadaan Lahan di Dunia
Jenis Penggunaan Lahan Lahan ( Juta ha ) presentase]
Jenis Penggunaan Lahan
Lahan ( Juta ha )
presentase
1.      Bercocok Tanam
2.      Padang rumput/Rerumputan
3.      Vegetasi/Hutan
4.      Lain-lain
1.107
3.044
4.053
4788
11.3
22.7
30.3
35.7
jumlah
13.392
100
Sumber data: FAO, Production Year Book (1975)
Penggunaan lain-lain yang dimaksud dalam hal ini antara lain : lahan-lahan tundra di kutub, lahan kering di gurun, lahan gunung-gunung batu, dan lebih kurang 400 juta hektar lahan untuk pemukiman, perindustrian, perkotaan, jalan raya dan lain-lain.
Kemudian sebagai lahan cadangan atau lahan yang belum dibuka dapat di jumpai di Benua dan Amerika Selatan.
Apabila luas lahan dunia tersebut dibandingkan dengan populasi penduduk dunia, maka dapat diketahui perkiraaan rata-rata pemilikian lahan untuk setiap orang. Jenis lahan pertanian meliputi :
1. Bercocok Tanam
Pertambahan jumlah penduduk yang terus meningkat , pola kegiatan penduduk yang mengumpulkan bahan makanan dari alam., tidak mungkin lagi dapat dilanjutkan karena campur tangan manusia untuk memanfaatkan lingkungan tidak dapat dihindari. Pola kegiatan mengumpulkan makanan lambat laun akan berubah menjadi pola yang lebih maju. Manusia susah melakukan kegiatan pertanian dengan cara yang sederhana yang disebut dengan berladang. Orang mulai melakukan kegiatan bercocok tanam. Bercocok tanam diladang merupakakan jenis pertanian tua dan paling sederhana. Kegiatan berladang di lakukan dengan cara menebang pohon-pohon dihutan kemudian setelah kering dibakar. Sisa-sisa pohong yang tidak terbakar dibersihkan kemudian ditanami langsung tanpa mengolah tanah karena tanah sanagt gembur pada zaman dahulu kala. Setelah ditanami 2 sampai 3 bulan mereka melakukan penebangan kembali di lahan yang baru sedangkan lahan yang lama ditinggalkan begitu saja dan akhirnya menjadi padang alang-alang dan tanah menjadi tandus.
Kegiatan pertanian yang berpindah-pindah lama kelaman berubah menjadi pertaniaan menetap. Kegiatan pertanian dengan system berladang diganti dengan sisitem pertanian sawah yang di pakai pada pertanian sekarang ini, perkebunan, dan kegiatan pertaniaan lainnya yang dilakukan secara intensif yaitu melakukan pengolahan tanah dengan sebaik-baiknya.
2. Perikanan
Kegiatan masyarakat dalam bidang perikanan sebelumnya hanya mencakup ikan dalam jumlah yang sangat kecil, dan dengan peralatan yang sangat sederhana. Dan pada masa sekarang ini mengalami perubahan yang sangat cepat sekali dengan mengikuti perkembangan teknologi yang semakin maju. Perikanan telah menjadi salah satu kegiatan perekonomian penduduk yang sangat penting. Peralatan perikanan sebelumnya sangat sederhana sekali tapi sekarang banyak peralatan ikan yang modern, bahkan di Negara-negara maju para nelayan sekarang ini menggunakan armada kapal penangkap ikan yang manpu menjelajahi sampai ke tengah laut.
3. Peternakan
Pada zaman dahulu atau disebut zaman purba masyarakat primitive untuk memenuhi kebutuhan akan daging mereka melakukan berburu binatang. Untuk memenuhi kebutuhan daging yang terus meningkat muncul suatu kegiatan perekonomian yang dilakukan penduduk disebut perternakan. Binatang-binatang liar yang berada dihutan di tangkap kemudian mulai dikembangbiakkan. Teknologi dan ilmu pengetahuan yang semakin maju berhasil menemukan jenis-jenis ternak unggul yang cepat berproduksi dan mempunyai hasil yang baik dan berkwalitas. Dalam kegiatan peternakan di bedakan menjadi 2 yaitu ternak besar dan ternak sedang. Ternak besar yang banyak di usahakan di Indonesia adalah sapi, kerbau dan kuda. Sedangkan ternak sedang meliputi kambing, domba dan babi. Ternak unggas yang banyak dikembangkan adalah ayam dan itik
4. Kehutanan
Hutan adalah paru-paru dunia yang harus kita jaga. Tapi sejak zaman dahulu kala manusia sudah mengenal yang namanya kegiatan bercocok tanam, sedangkan pada zaman dahulu kegiatan bercocok tanam dilakukan di daerah hutan. Dan manusia pada saat itu tanpa sadar mereka sudah merusak hutan. Untuk mengambil kayu dihutan diperlukan tenaga manusia untuk memotong dan mengangkut kayu sampai kepabrik. Mengangkut kayu ke pabrik termasuk bidang pengangkutan dan transportasi sedangkan pemotongan kayu di hutan merupakan kegiatan usaha penduduk di bidang kehutanan. Namun bila terus menerus di tebang tentunya akan habis dan bahan mentah pembuatan kertas akan habis pula.utuk itu lahan yang sudah di tebang perlu ditanami kembali supaya bahan baku kembali tersedia.

2.4. Kendala-Kendala Dalam Penggunaan Lahan Untuk Pertanian
Tidak semua lahan dapat dipakai untuk pertanian karena adanya kendala fisik dan kendala sosial. Kendala fisik dari produksi pertanian dibatasi oleh keadaan iklim, topografi, hidrologi, atau keadaan tanah yang tidak menguntungkan. Beberapa keadaan dapat diperbaiki oleh manusia, misalnya dengan jalan pengairan/irigasi, dan pengutusan atau pembajakan dalam.
Iklim merupakan faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap penyebaran pertanian karena mempengaruhi dari jenis tanaman yang tumbuh dan jenis hewan yang hidup. Buringh, P (1991) menyatakan, faktor-faktor penting dalam iklim yang membatasi produksi pertanian di suatu lahan ialah suhu tanah, curahan dan pencaran sinar matahari. Tanah dapat diklasifikasikan menurut kawasan suhu dan lengasnya. keadaan tanah-tanah yang mirip bisa mempunyai potensialitas pertanian yang sangat berbeda apabila tanah-tanah tersebut mempunyai kawasan suhu yang berbeda. Curah hujan merupakan faktor penting, baik untuk produksi pertanian maupun untuk pembentukan tanah. Pada 70% lahan tropika dan boleh jadi 80% pada lahan subtropika, curah hujan merupakan factor pembatas bagi produksi tanaman. Di bagian laut wilayah tropika dan subtropika ada pergantian musim basah dan kering. Di wilayah setengah kering ada perbedaaan potensial pertanian antara bagian yang bermusim hujan dalam musim dingin dan yang bermusim hujan dalam musim panas, yang berkaitan dengan perbedaan evotransipirasi. Panjang hari (waktu antara matahari terbit dan terbenam) merupakan faktor penting bagi berbagai tanaman.
Selain itu, dari bentuk iklim itu sendiri yang ada suatu wilayah juga mempengaruhi terhadap tanaman pertanian yang bisa diusahakan, pada dasarnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (1) Iklim Kontinental atau iklim darat, dan (2) iklim marine atau iklim laut. Di samping itu, dengan berdasarkan letak lintang dan variasi suhu permukaan bumi, daerah iklim juga dapat diklasifikasikan lagi, yaitu (a) daerah panas atau tropis, (b) daerah sedang atau subtropis, (c) daerah sejuk, dan (d) daerah dingin. Dari setiap klasifikasi tersebut pada dasarnya terdapat perbedaan jenis-jenis tanaman pertanian yang potensial untuk diproduksi dengan klasifikasi-klasifikasi yang lainnya. Jadi, produksi tanaman pertanian dari suatu lahan akan sangat dipengaruhi oleh bentuk iklim dari suatu wilayah dimana lahan itu berada.
Keadaan topografi atau ketinggian di suatu wilayah dapat mempengaruhi produksi potensial lahan pertanian. Perbedaan tinggi tempat dari permukaan laut dapat mempengaruhi jenis tanaman yang tumbuh ( dapat tumbuh dengan produktif) di suatu lahan pertanian. Hal ini akibat dari adanya perbedaan pengaruh suhu udara; semakin tinggi suatu tempat semakin rendah (dingin) suhu udaranya; semakin rendah suatu tempat semakin tinggi suhu udaranya. Dengan demikian, daerah tropika yang intensitas penyinaran mataharinya tinggi, tidak semuanya bersuhu tinggi. Dataran tinggi walaupun di daerah tropika selalu bersuhu rendah, sehingga hanya jenis-jenis tanaman pertanian tertentu saja yang mampu berproduksi.
Gambar 1: Pembagian daerah berdasarkan perbedaaan ketinggian dari permukaan laut.





2.500 m                daerah dingin

                                                                                   kopi, teh, kina, dan sayuran
1.500 m                daerah sejuk                                     

                                                                                                  padi, tembakau, kopi, teh,
600 m                    daerah sedang                                          coklat, dan sayuran


0 m                         daerah panas                                                        padi, tembakau, tebu, dsb.




 









Sumber gambar: Fatchan A, 2004; hal. 21
Ketinggian suatu wilayah juga berpengaruh tarhadap tinggkat bahan organik yang dikandung oleh lapisan tanah atas, demikian juga dengan zat nitrogennya. Semakin tinggi suatu tempat semakin meningkat kandungan organiknya dan zat Nitrogen asal wialayahnya tertutup oleh tanaman pelindung (Wirjodiharjo (1962) dalam Fatchan A, 2004; hal. 22).



Tabel 1: Kadar bahan organik dan nitrogen pada lapisan tanah di beberpa ketinggian tempat di atas permukaan laut
Tinggi tempat (m.dpl) tertutup hutan Bahan organik Zat nitrogen
tanah atas Tanah bawah Tanah atas Tanah bawah
0 – 100 63,53 1,79 0,293 0,998
100 – 200 6,70 2,24 0,323 0,126
200 – 300 6,06 2,94 0,306 0,152
300 – 400 6,67 1,46 0,326 0,095
400 – 500 - - - -
500 – 600 8,19 3,04 0,363 0,168
600 – 700 - - - -
700 – 800 10,48 4,53 0,401 0,194
800 – 900 14,98 8,79 0,661 0.429
Sumber data: Wirjodihardjo, 1963 dalam Fatchan A, 2004; hal. 22)

Yang berkaitan dengan bidang hidrologi dalam pertanian yakni pengairan atau irigsi. Dalam pertanian, pengairan berarti pengaturan air bagi tanaman sedangkan irigasi mengacu pada penyediaan air dengan menerapkan teknik tertentu seperti, pembuatan dam/bendungan, saluran dan sebagainya. Pengairan merupakan salah satu faktor penting dalam usaha peningkatan produksi pertanian. Air pengairan lahan pertanian dapat berasal dari hujan dan dari sistem pengairan (dari sungai, air tanah atau dam/bendungan). Penggunaannya harus disesuai dengan kebutuhan tanaman yang di usahakan, tidak berlebih dan tidak berkurang (Fatchan A, 2004; hal. 53).
Hal-hal yang perlu dikemukakan berkaitan keadaaan tanah yang dapat membatasi tingkat produksi pertanian di suatu lahan pertanian antara lain:
1) Keadaan kemiringan tanah
Keadaan kemiringan tanah dapat mempengaruhi produksi potensial pertanian di suatu lahan,. karena hal ini terkait dengan besar kecilnya tingkat erosi pada tanah/lahan. Tanah/lahan yang mempunyai kemiringan lebih dari 25% kurang baik digunakan untuk usaha pertanian tanaman pangan, sebab dapat terkena erosi besar. Berdasarkan penelitian Brwning (1947) dan Thomson (1957), tentang hubungan antara kecuraman lereng dengan besar erosi di Iowa Ameika Serikat,, jenis tanah lempung berdebu (silt loam) yang terletak pada lereng sebesar 9% dengan panjang lereng 72,6 kaki yang menggunakan sistem pengiliran tanaman jagung – oats dan padang rumput diketahui besar erosi 10 ton/are/tahun (22,42 ton/hektar/tahun). Pada lereng sebesar 18% besar erosi 2,6 kali lebih besar atau 26 ton/are/tahun (58,29 ton/hektar/tahun). Dan pada lereng sebesar 20% erosi sebesar 3,1 kali atau 31 ton/are/tahun (69,50) ton/hektar/tahun) (Sinata Arsyad, 1979 dalam Fatchan A, 2004; hal.45 – 46).
2) Keadaan tekstur tanah
Apabila terdapat perbedaaan tekstur dari suatu tanah/lahan mengakibatkan adanya perbedaan tehadap jenis tanaman pertanian yang dapat diproduksi. Misalnya, tanah yang bertekstur pasir (tanah gesik) akan cocok bila ditanam palawija dan kurang baik untuk padi karena tanah semacam ini sulit dijadikan lumpur. Pada lahan yang relatif kering dapat ditanami padi dengan menggunakan sistem gogo atau gogo rancah seperti di Nusa Tenggara Barat (NTT). Sedangkan, pada tanah yang bertekstur liat, cocok untuk menanam padi, tapi pengolahan tanahnya harus dilakukan pada musim hujan, kecuali bila ada pengairan teknis, sebab bila tidak tergenang air tanah akan lengket dan susah untuk diolah (Kaslan A. Tohir, 1952 dalam Fatchan A, 2004; hal. 45).
3) Keadaan lingkungan sekitar tanah pertanian
Keadaan lingkungan di sekitar lahan/tanah pertanian mempengaruhi tingkat produktifitas pertanian. Misalanya tanah/lahan pertanian yang dikelilingi oleh hutan dan banyak curah hujannya kurang ideal bila digunakan untuk usaha peternakan, lebih baik bila digunakan untuk perladangan atau persawahan dengan irigasi (Fatchan A, 2004; hal. 46).
4) Keadaan kesuburan tanah
Lahan pertanian dikatagorikan subur bila mempunyai bentuk profil tanah yang lengkap atau suatu keadaan dimana mata air, udara, bahan organk, dan unsur hara tanaman dalam keadaan cukup, seimbang, dan tersedia sesuai dengan tuntutan tanaman. Jadi, ada tiga unsur yang menentukan kesuburan tanah/lahan secara keseluruhan yaitu, unsur fisik, kimia dan biologi, atau dengan kata lain kesuburan tanah/lahan mencakup adanya kesuburan fisik, kesuburan kimia, dan kesuburan biologi tanah.
Pada dasarnya, tujuan usaha tani untuk memperoleh hasil produksi sebanyak-banyaknya tidak mungkin tercapai tanpa memperhatikan kesuburan tahan. Oleh karena itu, tingkat kesuburan tanah harus dilestarikan. Agar kelestarian kesuburan tanah dapat dipertahankan, maka pengelolahan tanah atau lahan harus memperhatikan tingkat produktifitas dan efesiensi. Tingkat produktifitas tanah mengacu pada kemempuan tanah untuk menghasilkan produksi pertanian secara optimal tanpa mengurangi tingkat kesuburan tanah dan tingkat efesiensi tanah mengacu pada hasil bersih yang dicapai dari setiap output (biaya produksi) sebesar mungkin sesuai dengan pertimbangan teknik dan ekonomis (Fatchan A,2004; hal. 41).
Selain kendala fisik, kerapkali ada kendala sosial – ekonomi, dan politik atas penggunaan lahan dalam meningkatkan produksi pertanian. Misalnya masih banyak petani yang buta huruf atau berpendidikan rendah sehingga tertinggal dalam hal penguasaan teknologi pertanian modern, dan tidak ada prasarana atau tidak adanya pasar untuk penjualan hasil produksi yang dapat mengakibatkan petani tetap dalam lingkaran kemiskinan atau pada taraf hidup yang rendah. Kendala sosial – ekonomi dan politik seringkali lebih penting daripada kendala fisik. Oleh sebab itu, pemerintah harus serius menangani kendala-kendala tersebut, misalnya dengan melakukan usaha-usaha antara lain, mengadakan penyuluhan-penyuluhan kepada petani tentang sistem-sistem dan teknologi pertanian yang baru dan tepat guna, mengadakan prasaran pertanian seperti tempat-tempat pemasaran, menentukan atau menetapkan harga hasil panen yang relevan bagi petani, dan lain sebagainya. Dari petani sendiri, upaya untuk meningkatkan hasil pertaniannya dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu, melalui ekstensifikasi, intensifikasi, diversifikasi, dan rehabilitasi lahan pertanian.













BAB III
PENUTUP
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Penggunaan lahan dalam konteks ini diartikan dalam wujud fisik penggunaan lahan, baik bersifat alamiah maupun sebagai aktifitas manusia. Variasi wujud penggunaan lahan di suatu wilayah sangat dipengaruhi oleh aktifitas manusia di atas lahan yang bersangkutan. Makin banyak jumlah penduduk yang mengusahakan lahan untuk aneka ragam kegiatan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, makin bervariasi pula wujuh penggunaan lahan yang terjadi. Pola penyebaran penduduk juga berperan dalam membentuk pola penggunaan lahan, baik di perkotaan maupun di pedesaan.
Luas lahan di muka bumi ini sesuai untuk bercocok tanam atau bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian adalah 25% atau sekitar 3.400 juta ha, dan kebanyakan lahan tersebut berada di wilayah tropik dan subtropik. Dalam data FAO (Production Year Book) tahun 1975, secara umum penggunaan lahan di dunia digolongkan sebagai berikut: golongan lahan untuk bercocok tanam dengan luas lahan 1.507 juta ha (11,3% dari luas lahan di muka bumi); lahan untuk rerumputan luasnya 3.044 juta ha (22,7%); lahan untuk hutan 4.503 juta ha (30.3%); dan lahan untuk lain-lain dengan luas 4.788 juta ha (37,7%). Di dalam golongan “lahan lain-lain” ini tercakup terutama lahan tundra di wilayah kutub, lahan kering di wilayah gurun dan lahan batu di gunung-gunung. Golongan ini juga mencakup 400 juta ha lahan yang digunakan untuk perumahan, industri, jalan dan pelabuhan udara. Lahan yang digunakan untuk perumahan, industri, jalan ini dan berbagai infrastruktur lainnya semakin meluas dengan cepat dari tahun-ketahun sehingga mengakibatkan lahan untuk pertanian di dunia semakin berkurang dengan drastis.
Lahan potensial adalah lahan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Dalam arti luas lahan potensial merupakan lahan yang memberikan daya dukung terhadap kehidupanmanusia secara optimal. Sedangkan dalam arti sempit lahan potensial adalah lahan produktif yang dapat memberikan hasil pertanian yang tinggi dengan biaya pengelolaan yang rendah. Lahan kritis adalah lahan yang telah mengalami kerusakan secara fisik, kimia, dan biologis sehingga tidak mempunyai nilai ekonomi lagi. Untuk menilai kritis tidaknya suatu lahan, dapat dilihat dari kemampuan lahan berdasarkan besarnya resiko ancaman atau hambatan yang dihadapi dalam pemanfaatan laha tersebut.
Tidak semua lahan dapat dipakai untuk pertanian karena adanya kendala fisik dan kendala sosial. Kendala fisik dari produksi pertanian dibatasi oleh keadaan iklim, topografi, hidrologi, atau keadaan tanah yang tidak menguntungkan. Beberapa keadaan dapat diperbaiki oleh manusia, misalnya dengan jalan pengairan/irigasi, dan pengutusan atau pembajakan dalam.

3.2. Saran-saran
1. Untuk umum. Sebelum menentukan lahan yang cocok untuk pertanian sebaiknya di lakukan identifikasi lahan terlebih dahulu supaya mempermudah dalam pengolahan pembentukan lahan.
2. Untuk mahasiswa. Sebagai kaum intelektual seharusnya ikut membantu dalam hal mensosialisasikan dan mengkaji tentang cara-cara pengelolahan lahan pertanian yang baik kepada masyarakat, khususnya para petani ataupun kepada pemerintah sehingga sektor pertanian menjadi lebih maju.
















DAFTAR RUJUKAN
Fatchan, Achmad. 2004. Bahan Ajar Geografi Pertanian. Jurusan Geografi. Fakultas Matematika dan ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Malang.

Taryana, Didik Suharto, Yusuf. 1991. Ilmu Tanah. Malang:UM Press.

Buring P. 1991. Pengantar Pengajian Tanah-Tanah Wilayah Tropika dan Subtropika. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Rafi’I, Suryatna. 1985. Ilmu Tanah. Bandung: Angkasa.

VARIASI PENGGUNAAN LAHAN PERTANIAN

MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Geografi Pertanian
Yang Dibina Oleh M. Misbahudholam AR, S.Pd


Disusun Oleh :
Yopinus
Indah Ayulia Nency
Irmina Madiana Iwang
Hendra Susilo
Marselina

UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI GEOGRAFI
2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar